by : kiki :D
saya tidak pandai menulis, tapi saya mencoba merangkai kata agar menjadi tulisan yang layak untuk dibaca.
Selasa, 25 Desember 2012
Selasa, 18 Desember 2012
Bahagia
Surayya Sakinah
2011380150010
Tugas Filsafat Ilmu Pengetahuan dan Logika
Dosen: Rheinatus AB.,SE.M.Hum
BAHAGIA
Anugerah terindah dari Tuhan
adalah bahagia, termasuk bahagia telah memiliki Tuhan dan bersyukur padaNya
dengan menaati perintahNya dan menjauhi laranganNya agar bisa bahagia diakhirat
kelak.
Bahagia adalah perasaan yang
menyenangkan, tidak ada tekanan psikologis didalamnya dan merupakan emosi yang bisa
dirasakan oleh semua orang. Bahagia tidak bisa dilihat secara kasat mata, tidak
bisa digenggam dengan tangan dan tidak bisa didekap oleh tubuh, tetapi bahagia
dapat dirasakan oleh jiwa. Datangnya bahagia sulit untuk ditebak karena bisa
datang dengan sendirinya dan hilang begitu saja. Pengaruh bahagia bisa dilihat
dari raut wajah yang awet muda, sehat dan semangat dalam menjalani hidup.
Ekspresi bahagia dapat dikenali, apakah orang itu sedang bahagia atau tidak,
apabila sedang bahagia orang mudah tersenyum dan terlihat tanpa beban, namun
apabila sedang tidak bahagia lebih banyak menunjukkan wajah yang cemberut dan
muram.
Setiap orang ingin bahagia dengan
kriteria dan tingkatan kebahagiaannya masing-masing yang mungkin tidaklah sama,
mungkin ada yang bahagia karena telah mempunyai mobil baru, dan mungkin ada
yang bahagia karena sudah makan cukup dengan keluarganya.
Kerja keras dan pengorbanan
ditujukan agar bahagia, misalnya seseorang yang bekerja keras karena ingin kaya
untuk membahagiakan orang tuanya secara materi karena apabila ia melihat orang
tuanya bahagia ia pun ikut bahagia. Contoh lain ada seorang mahasiswa yang
berjuang kuliah dan mendapatkan IP yang tinggi kemudian menemukan pekerjaan
yang memuaskan maka ia bahagia atas perjuangannya.
Beberapa hal yang berdekatan
dengan bahagia adalah sayang, nyaman, aman, damai dan cinta. Sedangkan yang
berbeda dari bahagia adalah sedih, galau,cemburu, cemas
dan duka.
Jadi bahagia adalah perasaan atau
emosi yang menyenangkan, tidak adanya tekanan psikologis, bisa dirasakan oleh
semua orang, bisa dicari, diperjuangkan dengan kerja keras dan pengorbanan,
bisa dibagikan pada orang sekitar kita dengan cara yang positif dan terbuka,
karena tujuan manusia pada akhirnya adalah bahagia.
Pengaruh Negatif Tayangan Televisi pada Anak Masa Golden Age
Pengaruh Negatif Tayangan Televisi
pada Anak Masa Golden Age
Oleh
: Surayya Sakinah
Fakultas Psikologi
Universitas Jayabaya
Televisi
merupakan salah satu media massa yang efektif, melalui audio visualnya televisi
menduduki posisi tertinggi
sebagai media elektronik, karena masyarakat Indonesia masih menjadikan televisi
sebagai media hiburan. Fungsi televisi antara lain sebagai media informasi,
pengantar pesan, mendidik, menghibur serta mempengaruhi pemirsa melalui acara
yang ditampilkan. Terdapat liputan berita serta peristiwa dari seluruh dunia, menyaksikan
berbagai jenis film dari film kartun, drama, biografi, aksi, edukasi, musik, bahkan
siaran dari
luar negeri. Banyak kemajuan dan kekurangan yang ditayangkan dari acara
televisi. Televisi bisa dijadikan sebagai media massa yang sangat bermanfaat,
namun masalahnya ada pengaruh buruk diantaranya dampak tayangan televisi
terhadap anak.
Menurut Dwyer, media
audio visual, merebut 94% saluran masuknya pesan atau
informasi ke jiwa manusia yaitu lewat mata dan telinga. Televisi membuat orang pada umumnya mengingat 50% dari apa yang mereka lihat dan
dengar dilayar televisi walaupun hanya sekali ditayangkan. Secara umum
orang akan ingat 85% dari apa yang mereka lihat di televisi setelah 3
jam kemudian dan 65% setelah 3 hari kemudian. Anak pada
umumnya meniru apa yang mereka lihat. Apabila yang mereka tonton lebih kearah edukasi, maka
akan bisa memberikan dampak positif, tetapi jika mengandung unsur kekerasan, akan berdampak terhadap
prilaku anak.
Saat
ini industri di Tanah Air bermunculan
boyband
dan girlband yang mengikuti
tren korea. Tren ini berdampak positif dan negatif bagi
kebudayaan Indonesia. Banyak pihak diuntungkan dengan hiburan mereka, namun sangat
merugikan bagi anak-anak. Anak bisa bernyanyi lagu bertema cinta
karena terbiasa mendengar dari televisi. Anak cepat sekali menghafal bila
mendengar bahkan bila teman-teman mereka juga menyanyikan lagu tersebut. Tak
jarang ditemukan sekumpulan anak-anak yang sedang main bersama menyanyikan lagu
percintaan.
Sekitar 80% otak anak berkembang pada
periode emas (golden age), usia nol
hingga lima tahun. Pada usia ini anak memiliki kemampuan untuk menyerap
informasi 100%. Segala bentuk informasi yang diterima pada usia ini akan berpengaruh
di kemudian hari. Menurut Psikolog Anak Desni Yuniarni, masa golden age otak anak berkembang sangat
cepat sehingga informasi apapun akan diserap tanpa melihat baik atau buruk. Ia
menambahkan, orangtua harus mengawasi anak mereka ketika menonton acara
televisi. Oleh karena itu, selalu mendampingi anak saat menonton televisi juga
merupakan bentuk stimulus yang diberikan orang tua. Anak di usia golden age ini
sangat kritis terhadap apa yang dilihat dan didengarnya, sehingga tugas orang
tualah yang mengarahkan agar si anak tidak salah dalam bersikap. Karena saat ini banyak sekali program televisi
yang tidak cocok bahkan tidak layak ditonton bagi anak-anak karena
dikhawatirkan akan ditiru, seperti acara gosip yang menonjolkan isu-isu
perceraian selebritis.
Selain
itu, permasalahannya adalah anak kecil tidak mampu membedakan antara dunia
televisi dengan dunia nyata. Bila orang dewasa melihat film aksi, horor, dan
drama mungkin mereka tau itu hanya fiksi belaka, tetapi banyak anak kecil yang
tidak mengetahui adegan tersebut hanya akting. Setelah anak terbiasa melihat
adegan yang ada ditelevisi, mungkin mereka akan meniru dalam dunia nyata,
mereka bermain seolah sebagai pemeran yang ditontonnya.
Sebaiknya,
orang tua bisa memberikan pengetahuan tentang tayangan televisi dengan menemani
anak menonton, mengajaknya membahas apa yang ditonton, dan membuatnya mengerti
bahwa apa yang ditayangkan tidak semua
sama dengan apa yang ada sebenarnya. Orang tua akan semakin erat hubungan
komunikasinya dengan anak. Berdiskusi dan membantu anak memperoleh manfaat dari
acara televisi, menuntunnya mengambil nilai positif dari acara tersebut dan
orang tua dapat mengajarkan nilai kehidupan yang baik kepada anak.
Hal
ini bisa terjadi karena kesibukan orang tua, terbatasnya waktu dan kesempatan
untuk mendampingi anaknya menyaksikan berbagai acara televisi, atau memang pengetahuan
orang tua tentang bahaya acara televisi
yang kurang, atau kesadaran orang tua terhadap bahaya televisi masih sangat rendah.
Kesadaran yang rendah ini bisa jadi disebabkan karena pribadi orang tua yang
memang juga termasuk orang yang suka menonton televisi atau bahkan kecanduan juga.
Pemerintah sebaiknya menyaringan
acara televisi, serta adanya standarisasi film yang layak di tayangkan atau
tidak layak. Menteri Agama, Suryadharma Ali mengingatkan adegan kekerasan dan pornografi
masih mudah dilihat dalam tayangan televisi yang mempengaruhi pola pikir anak
dan memberikan dampak negatif terhadap anak. "Jika memang media dirasa
menayangkan tayangan yang menunjukkan kekerasan, tayangan-tayangan yang
mengandung khurafat (khayalan, ajaran-ajaran, ramalan-ramalan, pemujaan atau
kepercayaan yang menyimpang dari ajaran Islam) seperti hantu, dukun, sama-sama
kita bereskan," katanya.
Komisioner Isi Siaran Komisi Penyiaran Indonesia (KPI)
Pusat Nina Mutmainnah Armando menyatakan, masyarakat harus bersikap kritis dan
bisa menyeleksi tayangan televisi yang sehat untuk anak. "Tanggung jawab
pada tayangan yang sehat untuk anak bukan hanya menjadi beban masyarakat
terutama orang tua dalam bersikap kritis terhadap tayangan televisi, tetapi
juga media selaku produsen acara televisi," kata Nina. Media harus
mematuhi aturan yang dibuat oleh KPI mengenai prosedur produksi acara dan
standar program siaran. Jangan sampai anak bebas menonton adegan kekerasan dan
seksual yang ditayangkan di televisi. Pengaduan masyarakat tentang materi acara
secara rutin disampaikan oleh KPI kepada stasiun televisi yang bersangkutan
setiap minggu. Tetapi masih banyak stasiun televisi yang acuh terhadap pengaduan tersebut.
"Acara yang mengandung unsur kekerasan dan seksual ditayangkan saat anak bisa
leluasa menonton televisi, bukan jam pada jam tayang khusus dewasa," kata
Nina.
Pihak penyiar televisi,
seharusnya tidak hanya mementingkan keuntungan, tetapi mempertimbangkan dampak
dari acara tersebut. Pihak penyiar bisa mengatur acara televisi sebagai sarana
mensosialisasikan nilai atau pemahaman baik yang lama maupun yang baru, dapat
berjalan sebagaimana fungsinya.
Harapan
saya dari tulisan ini adalah, para orangtua lebih selektif
dalam memilih tayangan untuk anak dan mengisi waktu luang anak dengan aktivitas
yang bermanfaat. Peran pemerintah, KPI dan media selaku produsen acara televisi
sebaiknya bekerja sama untuk maksimalkan lagi dalam menyaring tayangan
televisi, karena anak-anak adalah
generasi penerus bangsa. Apabila sedini mungkin mereka ditanamkan hal yang
positif, maka dapat diharapkan mereka akan
menjadi pribadi yang baik sebagaimana harapan
bangsa terhadap generasi penerus Indonesia.
Langganan:
Postingan (Atom)