Arsip Blog

Selasa, 18 Desember 2012

Pengaruh Negatif Tayangan Televisi pada Anak Masa Golden Age

Pengaruh Negatif Tayangan Televisi 
pada Anak Masa Golden Age
Oleh : Surayya Sakinah
Fakultas Psikologi Universitas Jayabaya


Televisi merupakan salah satu media massa yang efektif, melalui audio visualnya televisi menduduki posisi tertinggi sebagai media elektronik, karena masyarakat Indonesia masih menjadikan televisi sebagai media hiburan. Fungsi televisi antara lain sebagai media informasi, pengantar pesan, mendidik, menghibur serta mempengaruhi pemirsa melalui acara yang ditampilkan. Terdapat liputan berita serta peristiwa dari seluruh dunia, menyaksikan berbagai jenis film dari film kartun, drama, biografi, aksi, edukasi, musik, bahkan siaran dari luar negeri. Banyak kemajuan dan kekurangan yang ditayangkan dari acara televisi. Televisi bisa dijadikan sebagai media massa yang sangat bermanfaat, namun masalahnya ada pengaruh buruk diantaranya dampak tayangan televisi terhadap anak.
Menurut Dwyer, media audio visual, merebut 94% saluran masuknya pesan atau informasi ke jiwa manusia yaitu lewat mata dan telinga. Televisi membuat orang pada umumnya mengingat 50% dari apa yang mereka lihat dan dengar dilayar televisi walaupun hanya sekali ditayangkan. Secara umum orang akan ingat 85% dari apa yang mereka lihat di televisi setelah 3 jam kemudian dan 65% setelah 3 hari kemudian. Anak pada umumnya meniru apa yang mereka lihat. Apabila yang mereka tonton lebih kearah edukasi, maka akan bisa memberikan dampak positif, tetapi jika mengandung unsur kekerasan, akan berdampak terhadap prilaku anak.
Saat ini industri di Tanah Air bermunculan boyband dan girlband yang mengikuti tren korea. Tren ini berdampak positif dan negatif bagi kebudayaan Indonesia. Banyak pihak diuntungkan dengan hiburan mereka, namun sangat merugikan bagi anak-anak. Anak bisa bernyanyi lagu bertema cinta karena terbiasa mendengar dari televisi. Anak cepat sekali menghafal bila mendengar bahkan bila teman-teman mereka juga menyanyikan lagu tersebut. Tak jarang ditemukan sekumpulan anak-anak yang sedang main bersama menyanyikan lagu percintaan.
Sekitar 80% otak anak berkembang pada periode emas (golden age), usia nol hingga lima tahun. Pada usia ini anak memiliki kemampuan untuk menyerap informasi 100%. Segala bentuk informasi yang diterima pada usia ini akan berpengaruh di kemudian hari. Menurut Psikolog Anak Desni Yuniarni, masa golden age otak anak berkembang sangat cepat sehingga informasi apapun akan diserap tanpa melihat baik atau buruk. Ia menambahkan, orangtua harus mengawasi anak mereka ketika menonton acara televisi. Oleh karena itu, selalu mendampingi anak saat menonton televisi juga merupakan bentuk stimulus yang diberikan orang tua. Anak di usia golden age ini sangat kritis terhadap apa yang dilihat dan didengarnya, sehingga tugas orang tualah yang mengarahkan agar si anak tidak salah dalam bersikap.  Karena saat ini banyak sekali program televisi yang tidak cocok bahkan tidak layak ditonton bagi anak-anak karena dikhawatirkan akan ditiru, seperti acara gosip yang menonjolkan isu-isu perceraian selebritis.
Selain itu, permasalahannya adalah anak kecil tidak mampu membedakan antara dunia televisi dengan dunia nyata. Bila orang dewasa melihat film aksi, horor, dan drama mungkin mereka tau itu hanya fiksi belaka, tetapi banyak anak kecil yang tidak mengetahui adegan tersebut hanya akting. Setelah anak terbiasa melihat adegan yang ada ditelevisi, mungkin mereka akan meniru dalam dunia nyata, mereka bermain seolah sebagai pemeran yang ditontonnya.
Sebaiknya, orang tua bisa memberikan pengetahuan tentang tayangan televisi dengan menemani anak menonton, mengajaknya membahas apa yang ditonton, dan membuatnya mengerti bahwa apa yang ditayangkan  tidak semua sama dengan apa yang ada sebenarnya. Orang tua akan semakin erat hubungan komunikasinya dengan anak. Berdiskusi dan membantu anak memperoleh manfaat dari acara televisi, menuntunnya mengambil nilai positif dari acara tersebut dan orang tua dapat mengajarkan nilai kehidupan yang baik kepada anak.
Hal ini bisa terjadi karena kesibukan orang tua, terbatasnya waktu dan kesempatan untuk mendampingi anaknya menyaksikan berbagai acara televisi, atau memang pengetahuan orang tua tentang bahaya acara televisi yang kurang, atau kesadaran orang tua terhadap bahaya televisi masih sangat rendah. Kesadaran yang rendah ini bisa jadi disebabkan karena pribadi orang tua yang memang juga termasuk orang yang suka menonton televisi atau bahkan kecanduan juga.
Pemerintah sebaiknya menyaringan acara televisi, serta adanya standarisasi film yang layak di tayangkan atau tidak layak. Menteri Agama, Suryadharma Ali mengingatkan adegan kekerasan dan pornografi masih mudah dilihat dalam tayangan televisi yang mempengaruhi pola pikir anak dan memberikan dampak negatif terhadap anak. "Jika memang media dirasa menayangkan tayangan yang menunjukkan kekerasan, tayangan-tayangan yang mengandung khurafat (khayalan, ajaran-ajaran, ramalan-ramalan, pemujaan atau kepercayaan yang menyimpang dari ajaran Islam) seperti hantu, dukun, sama-sama kita bereskan," katanya.
Komisioner Isi Siaran Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat Nina Mutmainnah Armando menyatakan, masyarakat harus bersikap kritis dan bisa menyeleksi tayangan televisi yang sehat untuk anak. "Tanggung jawab pada tayangan yang sehat untuk anak bukan hanya menjadi beban masyarakat terutama orang tua dalam bersikap kritis terhadap tayangan televisi, tetapi juga media selaku produsen acara televisi," kata Nina. Media harus mematuhi aturan yang dibuat oleh KPI mengenai prosedur produksi acara dan standar program siaran. Jangan sampai anak bebas menonton adegan kekerasan dan seksual yang ditayangkan di televisi. Pengaduan masyarakat tentang materi acara secara rutin disampaikan oleh KPI kepada stasiun televisi yang bersangkutan setiap minggu. Tetapi masih banyak stasiun televisi yang acuh terhadap pengaduan tersebut. "Acara yang mengandung unsur kekerasan dan seksual ditayangkan saat anak bisa leluasa menonton televisi, bukan jam pada jam tayang khusus dewasa," kata Nina.
Pihak penyiar televisi, seharusnya tidak hanya mementingkan keuntungan, tetapi mempertimbangkan dampak dari acara tersebut. Pihak penyiar bisa mengatur acara televisi sebagai sarana mensosialisasikan nilai atau pemahaman baik yang lama maupun yang baru, dapat berjalan sebagaimana fungsinya.
Harapan saya dari tulisan ini adalah, para orangtua lebih selektif dalam memilih tayangan untuk anak dan mengisi waktu luang anak dengan aktivitas yang bermanfaat. Peran pemerintah, KPI dan media selaku produsen acara televisi sebaiknya bekerja sama untuk maksimalkan lagi dalam menyaring tayangan televisi, karena anak-anak  adalah generasi penerus bangsa. Apabila sedini mungkin mereka ditanamkan hal yang positif, maka dapat diharapkan mereka akan  menjadi pribadi yang baik sebagaimana harapan bangsa terhadap generasi penerus Indonesia.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar